RSS
Write some words about you and your blog here

Mata. .Hari

Matahari kian condong ke Barat
Malam mulai datang menjelang
Kami pulang dengan sebuah harapan
Sebuah kehangatan bersama ia yang tersayang
Namun apa yang kami dapati
Seperti sebuah kehinaan keki
Kami datang pulang dengan senyuman
Mereka menyambut dengan gerutuan
Sakitnya jika menyentuh ulu hati
Merasa ditinggalkan dan diungsi
Namun bumi teteplah mengitar
Waktu tetaplah bak tak berkawan
Majulah kawan dengan nurani
Tetapkan satu langkah mendaki
Dengan keteguhan hati yang pasti
Lupakan segala yang terjadi kini

Aku Butuh Semangat Bapak (part 2)

Kalau ini karya dari Bapak ku.. "Maap Pak, Saya njiplak." dengan banyak perubahan

Beliau berkata, " Hloh, ya ndak papa kamu dapet nilai ini " (sambil liat atau ngintip rapotku)
"Yang penting kamu sudah usaha." [ohh..betapa bersyukurnya anak seperti saya..hehe]
"Perkara hasilnya, sudah bukan urusanmu." [oh yeah...]
aku menjawab, "He'em y pak, yang pentinng berusaha, kalo hasilnya mah jadi urusan Tuhan." [yess! bijak..]
Bapak melanjutkan dengan diam. [okelah....urusan ama bapak beser dong]
Beberapa menit kemudian, aku berceloteh lagi. Tepatnya untuk menenangkan diriku sendiri..
"Ahh..ya ga papa ding, sudah bersyukur og." [beryukur atas nilaiku..suerrr..aku seneng...]
diam...hening...sepi....
"Pak...ga papa ya dapet 'gini' " [gatel deh ni anak...haha ..mungkin gitu klo aku yang jadi bapak]
"Iya, Bapak ga berambisi kamu dapet 10 kok, orang mampumu segitu." [haha..hancur aku! heheg]
"Iya tapi, ....."
"Kalau dapet 7, itu sudah bagus buat murid. Kalau dapet 8 itu untuk guru, nhah kalau 9 buat profesor kalau 10 ya buat Tuhan lah..." [syuuuuh..senyumku mekarrrrrr ..bunga peacock lewat dah..haha]


intinya sih: "Kalau ada satu Bapak yang kaya gini, bersyukurlah, berdoalah supaya ayah mu dapat mengerti seperti ini. Kalau ada dua Bapak seperti ini, mari kita bersyukur bersama. Karena salah satu anaknya adalah saya. Kalau ada buaaanyak Bapak seperti ini sih, saya rasa tidak ya...haha..."


Jangan salah paham. Cara mendidik orang tua kita memang berbeda-beda. Cara kita menanggapinya juga berbeda. Jadi kalaupun itu terjadi pada saya, bukan berarti itu tidak terjadi pada orang lain. Saya bersyukur dibesarkan dalam kondisi keluarga yang mendukung. Dan saya selaku yang didukung sadar (sesadar2nya), bahwa kita selaku anak, dalam kondisi keluarga seperti apapun, sudah seharusnya kita membahagiakan orang tua.. Dengan cara kita masing-masing tentunya dan semampu kita, itu wajib. Saya ingin katakan "Walaupun 'hanya' begini, tapi ini hasil keringat anakmu sendiri bapak." dan aku tahu jawaban Bapak, "Itu akan membantumu untuk menghadapi ujian berikutnya, sayang. Kamu punya bekal kerja keras mu sendiri bersama Tuhan." Jadi bukan masalah seberapa jelek atau bagus nilaimu sekarang. Tapi seberapa besar dan kerasnya usahamu sekarang. 

Aku Butuh Semangat Bapak (part 1)

Filosofi Bapak tercinta......(hahaha)



















katany "Nilai Bahasa Indonesiamu brapa?"
aku jawab "Delapan pak"
"Kalo Bahasa Inggris?"
"Tujuh pak"
"Bagus!!! Kamu kan orang Indonesia"
" !@$#$%^&* "