Argggggggggghhh..aku ingin berteriak sekencang-kencangnya...
Bapa, aku tak pernah ingin membuatMu kecewa dengan sengaja, aku tahu terkadang aku mengecewakan. Pedih Bapa, ketika aku tersadar aku telah mendukakan Engkau. Aku hanyalah manusia biasa, anak kecil dengan keinginan dan impian.
Seperti hari ini, aku mendukakkan Mu. Sungguh aku tak bermaksud, terbersit sedikit pun tidak, untuk menyakitinya. Ya, dia, temanku, sesamaku. Melukainya mungkin juga melukaiMu. Tadi bahkan ketika aku bercermin, sempat ku meluapkan amarahku yang sungguh saat itu meluap. Semua kesalku, marahku, jengkelku, benci, dan kebodohan, meluap-luap. Sakit pedih yang terus menyesak bersesal keluar. Tangis turut meluruhkan kesedihan dan amarah. Aku benci dia!!! Itu yang terlontar keluar. Lalu semua kenangan buruk dalam lingkup hal yang sama muncul menerjang tak dapat kuhentikan.
Jantungku berdebar cepat, terlalu penat di kepala dan hatiku. Tubuhku mematung dengan penuh sesal. Entah sesal apakah. Perih......dan sakit!!Aku telah berusah mengendalikan diriku, tapi tak sekuat yang kuharap. Aku memutuskan membiarkan "banjir" ini meluap dengan semaunya. Tak kan kuhalangi lagi, toh aku hanya sendiri.
Aku tahu berdiri pada dua posisi ini sulit. Tapi Tuhan memberikannya padaku, Ia menyerahkannya di pundakku. Aku tak kan menolak. Aku merasa aku mampu, Tuhan telah percayakan hal dan posisi ini padaku. Tapi.... ketika aku tersandung dan jatuh, semua yang memilihku, semua yang semula terasa mendukungku, semua yang dahulu bertepuk dan tersenyum untukku seolah memukulku. Perlahan dan pasti.... terasa sungguh amat menyakitkan. Tapi CUKUP......
Aku sekarang berada di hadapan mesin ketik, menjejakkan jari-jariku, menuangkan semua gagasan dan asaku. Bukan terus inggin mengeluh, aku hanya ingin menuangkan semua, lalu setelahnya aku dapat MENGAMPUNI mereka, MEMINTA MAAF padanya, bahkan disaat aku merasa itu bukan sepenuhnya kesalahanku.. Sebuah kesalah pahaman, salah respon dan kesalahan waktu telah menuntunku untuk bertumbuh memahami bahwa AKU ingin MEMILIKI seseorang yang mengerti, hanya SATU ORANG yang mau mengerti posisiku..itu harapanku..
Entahlah..mungkin ini ending yang kacau, melambangkan kekacauan yang ada. Aku merasa aku bersalah karena pernah berucap "aku benci dia!"... Bapa aku tak akan terus-menerus merasa benci terhadap dia atau siapapun, bahkan saat smua telah kukeluarkan aku mulai merasa bersalah melakukan itu pada dia hingga ia melakukan sesuatu yang aku benci. Aku inggin ini semua pergi, kembalikan dalam keadaan normal. Justru aku mendapatkan seuatu yang ingin ku bagi..
Tuhan memiliki berlaksa rencana yang sungguh teramat membingungkan untuk kita pada awalnya, tapi percayalah pasti...pasti ada sebuah maksud yang maha luar biasa di baliknya.. untuk kebaikan kita, anak-anakNya yang Ia kasihi..

0 komentar:
Posting Komentar